"Keyakinan"
Oleh: Anne Syaefatun Hindrimayatin
Ada seseorang yang menanyakan kepada salah seorang
temannya mengenai keyakinan. Menurutnya ia masih kurang mempunyai argument yang
kuat mengapa agama itu diperdebatkan baginya masuk agama apapun tidak akan
menjadi masalah yang terpenting adalah suatu keyakinan. Memang benar, di
Indonesia membebaskan warga negaranya untuk memeluk agama hal itu sudah
tercantum dalam UUD pasal 28 E.
Namun apakah salahnya jika seseorang bertanya
mengenai Tuhan. Ini lah pengalaman yang pernah saya alami pada saat usia
remaja. Memang usia remaja adalah saat dimana seseorang yang belum menemukan
jati diri. Saat itu ia bertanya kepada saya “Kenapa Tuhan itu ada tetapi tidak
ada wujudnya?” lalu saya menjawab “pernahkah mencoba mencampurkan garam dengan
gelas yang sudah berisikan air kemudian diaduk dengan menggunakan sendok,
apakah garam itu kelihatan wujudnya ketika diaduk? Tentu tidak, tetapi coba
kamu minum air yang berisikan garam di gelas tersebut tentu akan merasakan rasa
asin. Dengan hal itu kita bisa menyimpulkan bahwa rasa asin itu ada tetapi
tidak ada wujudnya begitupun dengan tuhan. Ia tak perlu diwujudkan namun cukup
untuk di rasakan dengan cara kita menjalankan ibadah dengan khusyuk maka akan
terasa kita sedang berkomunikasi dengan-Nya. Kalau Tuhan memiliki wujud maka tidak
sedikit yang ingin menyerupai wujud dan mengakui bahwa dirinya adalah Tuhan.”
Pertanyaan kedua pun terucap olehnya “Kenapa setan
itu diciptakan dari api dan akan dimasukan ke dalam neraka? Bukankah api dengan
api tidak akan menimbulkan rasa apapun karena mempunyai satu unsure yang sama.”
Lalu saya menjawab “Pernah kah kamu mencoba menampar diri kamu sendiri dengan
tamparan yang keras? Apa rasanya? Tentu sakit, apakah kamu berfikir telapak
tangan kamu berunsurkan kulit lalu wajah kamu pun berunsur kulit tapi apa yang
dirasa? Sakit, bahkan bisa menimbulkan bekas tamparan jika kamu menampar dengan
sangat keras. Begitupun dengan setan yang berasal dari api, logikanya kalau ada
rumah yang terbakar lalu ditambahkan api lagi dari korek api maka api itu akan
membesar.”
Pertanyaan yang ketiga ia mengucapkan “Kenapa harus
shalat? Untuk apa kita melakukan hal itu? Kenapa kita shalat 5 waktu” Lalu saya
menjawab “Banyak penelitian yang merumuskan bahwa gerakan shalat mempunyai
banyak hal manfaat. Sebenarnya yang membutuhkan shalat adalah kita, tanpa kita
sadari ada perbedaan yang mudah untuk kita rasakan yakni jika kita melakukan
shalat hati akan merasakan tenang tetapi jika kita meninggalkan shalat dengan
disengaja maka dengan secara tidak langsung kita sudah membohongi diri sendiri
bahwa memang hati kita tidak tenang. Di sini lah yang memudahkan kita, kapanpun
kita membutuhkan pengaduan maka dengan shalat 5 waktu kita dapat mengeluh dan
berkomunikasi dengan-Nya sehingga membuat persoalan hidup seketika hilang.
Kalau kita curhat kepada sesama manusia maka tidak dipungkiri rahasia kita akan
terbongkar dan belum tentu juga akan mendapatkan solusinya.”
Intinya, apapun itu adalah keputusan mu. Yang bisa
merasakannya hanya pada dalam hati nurani karena hati kecil tak dapat dibohongi.
Kita diciptakan dengan berbagai perbedaan, setiap manusia mempunyai masalah
yang berbeda hal ini lah yang
mendewasakan kita dan yang membuat warna dalam kehidupan manusia.
No comments:
Post a Comment