Hanya ingin belajar suapaya lebih baik

Artikel: Ini Dia

"Ini Dia"
Oleh: Anne Syaefatun Hindrimayatin

Seseorang yang dahulu hanya dipandang sekilas, yang kerap kali diabaikan oleh orang, dan sering kali diremehkan. Hari-harinya dipenuhi dengan hujatan, cacian, hinaan, semua ditelan mentah-mentah olehnya. Nampak keringat bercucuran dengan derasnya namun ia tetap tabah menjalani roda kehidupan. Baginya dunia ini penuh dengan kesenangan belaka yang berrsifat fana yang pada nantinya dunia ini akan hancur lebur termasuk penghuni bumi.

Tak usah membanding-bandingkan mana yang kaya dan mana yang miskin, mana yang sehat dan mana yang sakit, yang hitam dan yang putih semua akan sama dihadapan Tuhan. Jangan sesekali meghina ciptaan tuhan karena kita ini termasuk ciptaan-Nya.

Untuk apa mencongakkan kepala dan membusungkan dada seolah ia yang berkuasa di muka bumi. Toh, yang menciptakan bumi, jagat raya dan seisinya saja tidak berlaku seperti itu. Yang perempuan berlaga layaknya laki-laki dan yang laki-laki berlaga seperti perempuan.

Terasa dunia ini akan hancur lebur dengan kesombongan, serakah, tindak-tanduk manusia. Wahai manusia jangan lah engkau terlalu membanggakan diri mu sendiri. Jadikan agama sebagai patokan dalam hidup mu yang nantinya akan menuntun mu di dunia dan di akhirat.

Dengan adanya agama maka semuanya teratur dengan semestinya. Bukan tidak ada alasan mengapa hal ini itu dilarang, melainkan pada akhirnya semua itu demi kebaikan diri mu sendiri. Bayangkan, jika dunia ini tidak ada aturan. Apa yang anda pikirkan? tentu akan kacau semuanya akan sibuk dengan urusan masing-masing. Yang senang ada tapi yang sengsara banyak. 

Mengapa hal yang sempurna itu begitu banyak cobaan yang datang seolah mencoba untuk menghancurkan. Unuk itu jangan lah mudah terpengaruh oleh pembicaraan seseorang karena bisa saja pembicaraan tersebut akan membawa dampak buruk bagi kita. Ada sebuah kisah yang mencontohkan tentang selalu mendengarkan perkataan orang. Pada awalnya ada seorang pemuda dan bapaknya serta keledai namun yang menunggangi keledai itu hanya lah seorang pemuda, baru saja berjalan sudah ditemukan seseorang yang berkata "Seharusnya orang tua yang menunggai keledai itu, kasihan sekali bapak itu yang mengalah demi seorang pemuda" tak berpikir panjang maka seorang pemuda tersebut turun dan berkata kepada bapaknya "Bapak saja yang menunggangi keledai ini" lalu mereka pun melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan ada seseorang lagi yang mengatakan "Itu bagaimana sih orang tua ko tega membiarkan seorang pemuda untuk berjalan, seharusnya kan orang tua mengalah" tanpa banyak bicara bapak tersebut menyuruh pemuda tersebut untuk menunggangi keledai secara bersama-sama. Namun tak disangka setelah kejadian itu ada lagi yang mengatakan setelah berjalan sekitar 5 menittan "Kasihan sekali keledai itu sudah badannya kurus, kecil tapi ko ditunggangi 2 orang malang sekali nasib mu keledai" dan pada akhirnya keledai itu dipikul oleh bapak dan pemuda tersebut.

Apa yang sudah kalian tangkap dari sebuah kisah tersebut? jangan lah mendengarka orang berbicara hendaknya kita saring terlebih dahulu apakah seseorang mengatakan "a" itu berdamoak buruk bagi kita atau tidak, kalau sendainya benar maka turuti lah selagi itu membuat keadaan lebih baik. Bukannya tidak menghargai seseorang berkata tapi alangkah lebih baiknya jika kita berpikir jernih sebelum melakukan suatu tindakan.

No comments:

Post a Comment