""Tolong, Jangan Pandang Kami Sebelah Mata""
Oleh: Anne Syaefatun Hindrimayatin
Seperti biasanya disetiap sudut kota terdapat se-krumunan anak jalan hal ini memang tak dipungkiri. Entah karena apa sebabnya, dengan berbagai macam alasan mereka tetap bersama. Kita dipersatukan dengan latar belakang yang berbeda namun kami mempunyai tujuan yang sama.
Tak sedikit yang mengira kami adalah orang gila. Itu sudah makanan sehari-hari kami. Dengan cacian kami masih hidup asal jangan dibantai. Kami juga sama seperti kalian, sama-sama manusia yang membutuhkan makanan hingga sampai buang air besar/kecil kami pun sama.
Ini gaya kami dengan ini lah kami ekspresikan. Jangan bilang kami tak punya otak, kita sama diciptakan tuhan. Hanya saja kami punya perbedaan tersendiri. Ini lah penampilan kami dengan segala keapadayaan. Terimalah kami selayaknya manusia seperti biasa.
Bagi kami, baju yang kalian sebut dengan baju gembel "robek-robek" kami sebut ini baju dinas. Yang kalian pikir tindikan, tato, sepatu bot, rambut punk itu semua adalah fashion kami. Dengan keadaan kami seperti ini kami pun ingin terlihat keren tapi dengan cara kami sendiri. Masa bodo yang lain berkata apa hingga menggunakan toa (pengeras suara) sekali pun kami tetap tak memperdulikannya karena memang ini fashion kami.
Jika orang kota tampil dengan fashion mereka, kami pun tak mau kalah kami punya fahion tersendiri. Hari-hari kami sepenuhnya di jalanan, bukan tidak punya rumah tapi karena sebagian besar kami hanya ingin mencari pengalaman hidup di kota. Kami hanya tidak ingin mrepotkan orang tua yang pontang-panting menghidupi kami.
Tolong, perhatikan kami karena di setiap negara pasti memiliki anak punk ataupun jalanan. Mereka di sana dihidupi dengan penuh perhatian. Kami ingin mempunyai kehidupan yang lebih layak dengan tetap menjadikan style kami menjadi fashion yang tak kalah dengan yang lain. Kami perlu sentuhan dari wakil rakyat, kami ini hidup di republik. Kami butuh sarana dan prasarana yang menunjang penghasilan kami. Percaya lah, setiap manusia terlahir mempunyai bakat dan keahlian jika hal itu diasah dan ditunjang dengan media yang lebih menunjang maka akan terlahir lah sumber daya manusia yang berkualitas.
Sentuh lah kami dengan sentuhan yang lembut, rangkul kami dengan bahasa yang dapat kami mengerti, buka pembicaraan bersama kami tentang suatu permasalahan mungkin saja kami dapat membatu, tempatkan dan percayakan kami untuk menggolang usaha. Kami juga manusia sama seperti yang lain.
Bagi kami, baju yang kalian sebut dengan baju gembel "robek-robek" kami sebut ini baju dinas. Yang kalian pikir tindikan, tato, sepatu bot, rambut punk itu semua adalah fashion kami. Dengan keadaan kami seperti ini kami pun ingin terlihat keren tapi dengan cara kami sendiri. Masa bodo yang lain berkata apa hingga menggunakan toa (pengeras suara) sekali pun kami tetap tak memperdulikannya karena memang ini fashion kami.
Jika orang kota tampil dengan fashion mereka, kami pun tak mau kalah kami punya fahion tersendiri. Hari-hari kami sepenuhnya di jalanan, bukan tidak punya rumah tapi karena sebagian besar kami hanya ingin mencari pengalaman hidup di kota. Kami hanya tidak ingin mrepotkan orang tua yang pontang-panting menghidupi kami.
Tolong, perhatikan kami karena di setiap negara pasti memiliki anak punk ataupun jalanan. Mereka di sana dihidupi dengan penuh perhatian. Kami ingin mempunyai kehidupan yang lebih layak dengan tetap menjadikan style kami menjadi fashion yang tak kalah dengan yang lain. Kami perlu sentuhan dari wakil rakyat, kami ini hidup di republik. Kami butuh sarana dan prasarana yang menunjang penghasilan kami. Percaya lah, setiap manusia terlahir mempunyai bakat dan keahlian jika hal itu diasah dan ditunjang dengan media yang lebih menunjang maka akan terlahir lah sumber daya manusia yang berkualitas.
Sentuh lah kami dengan sentuhan yang lembut, rangkul kami dengan bahasa yang dapat kami mengerti, buka pembicaraan bersama kami tentang suatu permasalahan mungkin saja kami dapat membatu, tempatkan dan percayakan kami untuk menggolang usaha. Kami juga manusia sama seperti yang lain.
No comments:
Post a Comment