Hanya ingin belajar suapaya lebih baik

Artikel: Masa SMA

''Masa SMA''
Oleh: Anne Syaefatun Hindrimayatin

Masa dimana semua terjadi karena perbedaan menyatukan segalanya. Perbedaan berpendapat yang selalu dihiasi dengan emosi. Itu lah ciri khas seorang yang baru meranjak dari remaja awal menuju remaja akhir. Dinyatakan remaja awal yakni pada saat kisaran usia 11 tahun hingga 16 tahun sedangkan remaja akhir yakni pada saat kisaran  usiaa 17 tahun hingga 20 tahun. Itu menandakan remaja akhir sebentar lagi akan beranjak ke penggolongan usia dewasa.

Awal masuk SMA memang menyenangkan sekaligus mengagetkan bagi yang belum bisa menyesuaikan diri. Ada yang stress karena tugas menumpuk ada juga yang stress karena nilai ujian jeblok. Hem .. kompleks deh pokoknya yang dulu pernah SMA pasti tau deh gimana rasanya. Memang cara pembelajarannya tidak sedikit jauh berbeda dari SMP hanya saja ada sedikit bumbu yang mengharuskan siswa yang berperan aktif ketimbang guru pengajar hal ini berkenaan yang nantinya diharapkan lulusan SMA/MA/sederajat dapat menyesuaikan jika melanjutkan ke perguruan tinggi negeri.

Kalo ngomongin SMA paling engga afdhol nih kalo engga nyeritain masa orientasi atau orang tua dulu sih taunya ospek. Nah, awal masuk SMA itu kebetulan dengan adanya kebijakan baru yakni awal mulanya diberlakukan kurikulum 2013 maka penjurusan bidang IPA/IPS sudah ada dari kelas 10 hal ini berbanding terbalik jika menengok tahun-tahun sebelumnya yang masih menerapkan kurikulum KTSP. Setelah berlangsungnya tes yang menentukan bidang IPA/IPS baru lah masa orientasi berlangsung.

Siapa bilang masa orientasi itu mengerikan pada tahun itu menteri pendidikan dalam negeri (MENDAGRI) sudah menghimbau agar kepala sekolah melarang untuk mengadakan masa orientasi yang berdasar perpeloncoan. Untuk itu hampir disetiap sekolah menerapkan hal tersebut. Sebenarnya pada masa orientasi itu siswa diharapkan untuk terbiasa dalam cangkup lingkungan sekolah baru bagaimana proses belajar dalam kelas, menghadapi tugas yang diberikan oleh guru pengajar, mengetahui letak dan fungsi sarana prasana sekolah dan tentunya masih banyak lagi.

Sekolah itu hanya mengajarkan ilmu dasar dari kehidupan yang ada dimasyarakat agar diharapkan para pemuda usia produktif dapat berinovasi dibidang yang dikuasainya masing-masing untuk meningkatkan daya saing antar negara. Jadi salah besar tuh kalau kita sekolah tapi berorientasinya hanya kepada nilai besar. Begini loh logikanya, kalau kita belajar dengan sungguh-sungguh dan selalu membudayakan membaca secara otomatis ilmu yang kita serap akan bertambah banyak dan tentunya mendapatkan nilai tertinggi sekalipun itu merupakan hal yang termudah.

Sayangnya, budaya membaca tidak diterapkan oleh semua siswa mereka cenderung membaca status yang terdapat di jejaring sosial (FB, Twitter, Instagram, dll). Seandainya mereka lebih bijak dalam menggunakan media sosial tentu tidak sedikit yang dapat diperoleh.

No comments:

Post a Comment